
Prevalensi autis di dunia saat ini mencapai 15-20 kasus per 10.000 anak atau 0,15-0,20%. Jika angka kelahiran di Indonesia enam juta per tahun maka jumlah penyandang autis di Indonesia bertambah 0,15% atau 6.900 per tahun dengan prevalensi anak laki-laki tiga sampai empat kali lebih besar daripada anak perempuan. Autis merupakan gangguan perkembangan yang menyerang anak pada usia balita hingga tiga tahun dengan deteksi dini lebih cepat dan dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi.

Penanganan anak autis yang belum banyak terpikirkan oleh para orang tua yang anaknya baru terdiagnosis autis adalah pengaturan diet (konsumsi). Hasil pemeriksaan terhadap 200 anak autis di Indonesia didapatkan bahwa seluruhnya menderita alergi makanan (multiple food alergy) dan sekitar 95% alergi terhadap susu sapi dan jenis gandum. Hal tersebut di dapatkan dari hasil penelitian observasional dengan rancangan studi potong lintang (cross sectional) yang dilakukan oleh Pusat Layanan Autis Metro dan SLB Insan Madani Metro.
Gluten adalah sejenis protein yang ada dalam tepung serta gandum. Bisa dibilang, hampir semua makanan yang sering kita konsumsi mengandung gluten sedangkan kasein adalah sejenis protein dalam susu dan keju, yang juga mengandung asam amino umum maupun esensial.
Pencernaan pada anak penyandang autisme sendiri diketahui cenderung tidak optimal dalam memproses gluten dan kasein dari makanan, sehingga menyisakan peptida opioid berlebih di dalam tubuh. Secara teori, peptida oipoid dalam jumlah tertentu bisa keluar dari saluran pencernaan dan mengganggu perkembangan serta fungsi otak anak. Itulah kenapa anak penyandang autisme dirasa perlu menghindari konsumsi gluten dan kasein.

Diet GFCF atau diet Gluten Free Casein Free menjadi salah satu diet yang bisa dilakukan oleh anak autis, guna mencegah gangguan pencernaan lain yang mengakibatkan semakin parahnya perkembangan anak autis. Diet bebas kasein bebas gluten, juga dikenal sebagai diet bebas susu bebas gluten, adalah diet yang tidak termasuk protein gluten dan kasein. Meskipun tidak ada bukti ilmiah, tetapi ada pendukung untuk penggunaan diet ini sebagai pengobatan untuk autisme dan kondisi terkait. Untuk menjalankan diet ini, anak penyandang autisme harus diperiksa dulu oleh dokter apakah dia memiliki alergi terhadap bahan makanan tertentu. “Sebaiknya saat tes, anak didampingi psikolog dan terapis,” ujar Ketua Yayasan Autisme Indonesia dokter Melly Budhiman Sp.KJ di Jakarta . Usai tes alergi, jika orangtua si anak bersedia menerapkan diet GFCF ini, maka yang perlu dilakukan hanya mengganti bahan makanan. Kalau biasanya menggunakan bahan terigu yang mengandung protein tinggi, para ibu hanya perlu menggantinya dengan jenis tepung lain seperti tepung sagu, beras atau tapioka.
“Selain protein pada tepung terigu, protein pada ikan sebenarnya juga dapat merangsang anak autis menjadi makin hiperaktif karena air laut sudah tercemar. Makanya diet ini juga tidak menyarankan makanan laut untuk anak autis,” ujar Melly. Karena itu menurut Melly, orangtua bisa menggantinya dengan ikan-ikan dari air tawar seperti lele dan lain-lain Sementara untuk bahan makanan seperti susu sapi bisa diganti dengan bahan makanan lain seperti susu kedelai kalau tidak alergi dan susu-susu lain yang tidak mengandung gluten seperti misalnya susu kentang, susu beras atau susu almond. Selain menghindari beberapa jenis makanan, pemberian buah-buahan untuk anak autis juga sebaiknya dibatasi. Buah-buahan seperti apel, jeruk, melon, strawberi, anggur, sebaiknya tidak diberikan karena mengandung kadar gula tinggi. Kadar gula yang tinggi dapat membuat penyandang autis menjadi bertambah aktif. Sebagai penggantinya dapat diberikan buah pepaya dan pisang.
Jenis makanan lain yang wajib dihindari adalah junk food dan yang mengandung pemanis buatan. “Karena itu, makanan seperti cokelat, es krim, minuman bersoda, berpewarna dan berpemanis sebaiknya dihindari. Lebih baik minum air putih,” ujar Melly. Kata Melly, bila anak tidak alergi buah, orangtua bisa membuatkan jus buah apa saja. Pada dasarnya makanan bergluten dan bercasein mesti dihindari karena menimbulkan efek seperti psikotoprika yang kurang baik bagi anak autis. Anak akan menjadi lebih aktif dan sulit diatur akibat makanan seperti ini, kata Melly.
Tetapi ternyata diet ini tidak mudah dilakukan ditambah lagi, beberapa ahli berpendapat, diet gluten dan Kasein untuk anak autis tidak sepenuhnya efektif,
termasuk terapi biomedik, hiperbarik, vitamin dan suplemen seperti vitamin B6, B12, magnesium, dan omega free fatty acid belum didukung bukti ilmiah yang kuat untuk direkomendasikan sebagai pengobatan gangguan sindrom autistik (GSA),” Hal ini disampaikan oleh psikiater anak dan remaja di Klinik Tumbuh Kembang & Edukasi Terpadu RS Pondok Indah, dr Ika Widyawati SpKJ(K)
Dari berbagai hasil studi ilmiah, termasuk yang dilakukan oleh Profesor Dr. dr. Hardiono D Pusponegoro, SpA(K) beserta rekan dan dilansir oleh National Institutes of Health, diet bebas gluten dan kasein untuk anak autis tidak memberikan perubahan signifikan pada kondisi anak penyandang autisme.
Mengutip kumpulan studi lain yang dimuat dalam situs sciencedirect.com, diet bebas gluten dan kasein juga berpotensi menyebabkan kekurangan vitamin D, kalsium, zat besi, vitamin B, dan nutrisi penting lainnya.
Meski sebagian orang tua yang pernah mencobanya mengaku melihat ada perubahan positif pada anak, berbagai hasil studi terkini malah menemukan kalau diet bebas casein dan gluten tidak memberikan efek apapun dan di ragukan keefektifannya.
Jadi sekarang pilihan ada di tangan anda, apabila anda ingin mencoba sebaiknya sebelum menjalankan diet Gluten Free Casein Free konsultasikan dulu dengan dokter dan ahli gizi
Salam Sehat Salam Gizi Seimbang
“Jangan menyerah ketika kita mampu berusaha, tidak ada kata berakhir sampai kita berenti mencoba”
.



